Kabar Ayam Lokal Indonesia


Musim penghujan melanda berbagai daerah di Tanah Air. Di mana-mana banjir dan longsor menjadi musibah yang perlu diwaspadai. Musim penghujan juga menjadi ancaman bagi keberlangsungan usaha budidaya unggas. Berbagai penyakit unggas akan kembali menghinggapi ternak yang sudah pasti akan menimbulkan kerugian baik karena kematian atau menurunnya produksi.



Untuk mendeteksi awal berbagai penyakit atau sebagai early warning system, menurut Tony Unandar, salah seorang seorang Dewan Pakar ASOHI, dapat diterapkan kontrol malam terutama untuk peternakan ayam petelur. Kontrol malam dilakukan pada saat malam hari pada saat ayam sudah tidur, yaitu dengan mendengarkan irama gangguan pernafasan pada ayam. Gangguan pernafasan ayam terbentuk atas 3 faktor utama yaitu ritme, tempo dan intensitas suara dan dikategorikan menjadi 12 tipe dasar. Lalu, bagaimana pola pernafasan pada ayam yang terjangkit AI, ND, IB, CCRD dan penyakit popular lainnya ? Pembaca dapat menyimaknya dalam rubrik Kesehatan.
Pada bulan Oktober 2010 lalu, telah dilaksanakan dua kongres perhimpunan keprofesian yaitu Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Wartawan Poultry Indonesia Aulia Rahmat Hatta meliput jalannya Kongres ISPI di Makassar, yang akhirnya telah memilih kembali  Yudhi Guntara Noor sebagai Ketua ISPI 2010-2014. Sementara itu Kongres PDHI di Semarang diliput oleh dua koresponden kami yaitu Isman dan Yogasmoro. Kongres PDHI juga telah memilih kembali Drh. Wiwiek Bagja sebagai Ketua PDHI periode 2010-2014. Rangkaian pelaksanaan dua acara kongres ini kami sajikan dalam Laporan Khusus.
Apa kabar ayam lokal Indonesia? Ayam yang di kalangan masyarakat awam kita dikenal dengan ayam kampung atau ayam buras ini kiprahnya semakin terdengar nyaring. Penikmat ayam lokal  berasal dari kalangan menengah atas karena harganya yang cukup mahal. Tetapi budidaya ayam lokal masih terbentur pada ketersediaan bibit yang masih terbatas. Belum adanya pembibitan ayam lokal skala besar dan berstandar masih menjadi kendala untuk berkembangnya ayam lokal. Padahal permintaan pasar cukup besar dan baru dapat dipenuhi sekitar 5%.
Dalam pembibitan ayam lokal dibutuhkan rekayasa genetik, teknologi tinggi, modal besar dan waktu yang cukup lama. Struktur pembibitan ayam lokal belum seperti ayam ras. Program yang ada adalah usaha pembiakan untuk menghasilkan bakalan jago dan indukan dengan jumlah yang masih terbatas. Sumber produksi DOC masih mengandalkan ayam-ayam komersial yang dijadikan sebagai induk atau pembiak. Laporan lengkap mengenai perkembangan ayam lokal di Indonesia dapat pembaca simak dalam Laporan Utama.

Sumber : http://www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1503

0 komentar: