Kamis, 20 Januari 2011

Swasembada Daging 2014

Pemerintah kembali mencanangkan program untuk mewujudkan swasembada daging sapi yaitu Program Swasembada Daging Sapi 2014 , yang merupakan kelanjutan program sebelumnya yaitu Swasembada Daging 2005 dan Program Percepatan Swasembada Daging Sapi 2010 yang kedua program ini telah ”gagal” dicapai. Program ini juga merupakan peluang untuk dijadikan pendorong dalam mengembalikan Indonesia sebagai eksportir sapi .

Menurut saya, program swasembada daging 2014 akan bisa kita capai jika laju pertambahan populasi ternak ditingkatkan. Karena setahu saya program swasembada daging 2010 gagal akibat pertambahan populasi ternak sangat lambat. Ini terbukti karna saat ini kita masih mengimpor sekitar 40 % kebutuhan daging sapi. Jadi untuk mencapai program itu dibutuhkan kerja sama seluruh lapisan masyarakat khususnya peternak2 sapi untuk meningkatkan produksinya. Dalam hal itu, sarjana peternakan juga berperan penting untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari dalam perkuliahan sebagai kepada masyarakat dalam rangka peningkatan produksi peternakan. Program Menteri Pertanian dalam rangka mewujudkan swasembada daging 2014 antara lain:
  • Memperbanyak jumlah populasi sapi induk melalui program kredit usaha pembibitan sapi.
  • Memanfaatkan lahan-lahan yang masih potensial untuk peternakan. Integrasi perkebunan sawit dengan peternakan sapi diproyeksikan dapat menghasilkan 50.000 sapi dalam lima tahun.
  • Meningkatkan jumlah kelahiran anak sapi menjadi 100.000 ekor dalam lima tahun.
Menurut Endang Baliarti salah satu guru besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada mengatakan untuk mencapai swasembada daging ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
  • Pendampingan pada peternak rakyat, hal ini mengingat lebih dari 90 % ternak sapi dipelihara oleh sekitar 6,5 juta rumah tangga di pedesaan dengan pengetahuan peternakan yang minim.
  • Adanya penyediaan pakan lokal, areal perkebunan serta hutan bisa menjadi sumber pakan sapi yang sangat potensial.
Nah, ini merupakan peluang bagi sarjana-sarjana peternakan untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari dalam pencapaian swasembada daging 2014. Jadi, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk program tersebut, apalagi seiring dengan berjalannya program Sarjana Membangun Desa, mudah-mudahan produksi daging akan meningkat sehingga akan memenuhi konsumsi daging di Indonesia. Saya sendiri juga berniat ingin memanfaatkan lahan yang ada dikampung untuk peternakan sapi potong. Mudah-mudahan kita semua baik peternak rakyat, perusahaan, kelompok dapat mewujudkan swasembada daging 2014. Amiiin...

Jika aku menjadi Sarjana Peternakan

Assalamua'laikum blogger mania......

Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT selalu......
Jika aku sudah menjadi Arif Muhibi, Spt nantinya, maka aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung nantinya, karna akhirnya saya bisa juga menyelesaikan kuliah. hehe... Kalau sudah jadi sarjana peternakan nanti, pertama sekali aku sangat bersyukur pada Allah SWT yang telah memberikan nikmatNya, dan orang tua ku juga akan merasa sangat bangga nantinya, apalagi kalau semua impianku tercapai. ^_^

Saya mempunyai sejumlah keinginan jika sudah wisuda nantinya, diantaranya ingin menjadi kepala dinas Peternakan, membuka perusahaan peternakan, manejer dari sebuah perusahaan besar seperti confeed, medion, japfa atau lainnya. Wah...ketinggian kayaknya, =))
Untuk mencapai semua itu tentunya saya harus memulai dari awal dulu, saya akan mengikuti tes untuk bekerja diperusahaan-perusahaan yang membutuhkan karyawan, tes untuk dinas peternakan, dan perusahaan lainnya.

Disamping itu saya juga akan membuka usaha peternakan sapi dikampung, karna keluarga saya mempunyai lahan yang cukup luas untuk membuka peternakan sapi tersebut, saya sendiri menginginkan sapi perah, tapi setahu saya pabrik industri pengolahan susu di Sumbar belum ada, jadi kalau saya pelihara sapi perah nanti akan susah untuk memasarkan produk susu nantinya. Jikalau saya sudah mempunyai modal yang banyak, saya akan mendirikan sebuah pabrik pengolahan susu di Solok, karna kalau sudah ada pabrik tersebut maka peternak tidak akan takut untuk beternak sapi perah,,, ya kan???
So....saya pribadi akan berusaha keras untuk mencapai semua itu, mudah-mudahan Allah SWT memudahkan jalan untuk impian saya tersebut...amiiin...
:)

Rabu, 15 Desember 2010

SWASEMBADA DAGING 2014


Program swasembada daging merupakan sebuah program yang melibatkan segenap masyarakat untuk memenuhi kebutuhan daging yang diperoleh dari dalam negeri. Pemerintah telah mencanangkan program ini setidaknya sudah sejak tahun 2005, lantas belum tercapai alias gagal, gagal pada tahun 2005, pemerintah pun mencanangkan Swasembada Daging 2010, belum selesai tahun 2010, nampaknya pemerintah harus mencanangkan kembali program Swasembada Daging 2014.

Peran serta semua pihak mejadi kunci dalam keberhasilan ini. Namun demikian, iktikad dan komitmen dari semua pihak tentunya harus ditingkatkan. Jangan sampai kita mengulangi kegagalan yang sudah terjadi. Atau jangan sampai program ini menjadi komoditas politik yang kemudian nanti hanya jadi bahan rebutan partai dalam kampanye. Sungguh memalukan!

Menurut Harian Bisnis Indonesia, belum lama ini Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan peta-jalan (road map) menuju swasembada daging pada 2014 akan rampung pada September 2009 mendatang. Wakil Ketua Umum Kadin bidang Kelautan, Perikanan dan Peternakan, Juan Permata Adoe, menegaskan draft road map berisi masukan-masukan serta gagasan yang menampung aspirasi kepentingan dari dua sisi yang menjadi unsur pendukung dalam implementasinya yaitu pihak pemerintah dan swasta.

Pada tahun 2009 ini Menteri Pertanian yang sekarang di Jabat oleh Ir. H. Suswono, MMA memaparkan program-programnya dalam mendukung swasembada daging 2014 di dalam seminar nasional pengembangan ternak potong untuk mewujudkan program kecukupan/swasembada daging di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (7/11). Program Suswono dalam rangka mewujudkan swasembada daging 2014 antara lain:

  • Memperbanyak jumlah populasi sapi induk melalui program kredit usaha pembibitan sapi.
  • Memanfaatkan lahan-lahan yang masih potensial untuk peternakan. Integrasi perkebunan sawit dengan peternakan sapi diproyeksikan dapat menghasilkan 50.000 sapi dalam lima tahun.
  • Meningkatkan jumlah kelahiran anak sapi menjadi 100.000 ekor dalam lima tahun.
Menurut Endang Baliarti salah satu guru besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada mengatakan untuk mencapai swasembada daging ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
  • Pendampingan pada peternak rakyat, hal ini mengingat lebih dari 90 % ternak sapi dipelihara oleh sekitar 6,5 juta rumah tangga di pedesaan dengan pengetahuan peternakan yang minim.
  • Adanya penyediaan pakan lokal, areal perkebunan serta hutan bisa menjadi sumber pakan sapi yang sangat potensial.

Direktur Jenderal Peternakan, Tjeppy D Soedjana mengatakan kredit untuk usaha pembibitan sapi ini diberikan dengan bunga lima persen. Pelaku usaha yang mendapatkan subsidi bunga kredit adalah perusahaan, koperasi atau kelompok peternak. Namun, perusahaan dan koperasi harus bekerja sama dengan kelompok peternak. KUPS diberikan maksimal Rp 66,315 miliar dengan jangka waktu pembayaran enam tahun dan masa tenggang dua tahun. Nilai maksimum pemberian kredit itu untuk pengadaan 5.000 ekor sapi. Induk sapi untuk pembibitan bisa berasal dari sapi impor atau turunan sapi impor, tetapi bisa juga dari dalam negeri.

Dewi Sartika, Kepada Bidang Produksi Dinas Peternakan Jabar, mengungkapkan sejak diluncurkan kredit usaha peternakan sapi (KUPS) tahun ini hanya beberapa koperasi (peternak) di Jabar yang mendapatkan jatah KUPS."Yang saya tahu baru dua atau tiga peternak (koperasi) yang mendapatkan kredit tersebut dan pemerintah mengucurkan KUPS untuk pengembangan sapi potong dan sapi perah di Indonesia dengan memberikan subsidi bunga kredit 5% per tahun kepada peternak. Pemerintah menggandeng empat bank pelat merah untuk program KUPS yaitu Bank BRI, Bank BNI, Bank Mandiri, dan Bank Bukopin. "Bunga kreditnya tetap komersial, namun sisa bunga kreditnya ditanggung pemerintah. Peternak hanya membayar bunga lima persen. Itu pun dibayarkan pada tahun kedua setelah kredit cair," kata Dewi.

Referensi:
http://www.pikiran-rakyat.com
http://www.kompas.com